Skip to main content

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan renyah senja berakhir bersamaan dengan tenggelamnya senja dan menjemput adzan maghrib. Aku tahu ibuku tak akan menggubris ucapan gadis kecil berusia tujuh tahun. Hanya celotehan anak yang sedang begurau. Saat itu menjadi pendaki adalah salahsatu impian yang ku tuliskan di secarik kertas. Ayah pernah bilang terhadapku, “mulailah menuliskan impianmu di kertas dan tempelkan di dinding kamarmu agar menjadi dorongan agar kamu lebih termotivasi untuk mengenggam impianmu”. Saat itu baru 3 impian yang ku tuliskan, yaitu dokter, mekkah, dan pendaki. aku ingin menjadi dokter, aku ingin singgah ke rumah Allah, dan aku ingin menjadi pendaki.
Aku yakin dengan segala keterbatasan ini, kaki ku mampu menopang kuat badanku. Aku tahu, kenapa isyarat gelengan kepala yang ibu berikan pada impianku itu, karena aku tak bisa pergi jauh tanpa tongkat penopang kaki. Sering kali aku iri dengan teman-temanku yang memiliki anggota tubuh sempurna.

Comments

Popular posts from this blog

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.