Skip to main content

Suara Hati Pengamen Kecil, Pikiran Rakyat Edisi 7 Mei 2013



SUARA HATI PENGAMEN KECIL

            “Aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu di sayang sekarang ku di buang ...” desir dari suara pengamen yang masih aak-anak, kiranya maih berumur enam tahunan. Hingga pukul 19.30 pengamen kecil masih berkeliaran menjual suaranya dengan rupiah tak seberapa yang didapatkannya. Mengingat uang di sakuku hanya cukup untuk ogkos saja, au kurangi ongkosku Rp. 500, 00 dan memberikan pada anak itu. Uluran tangan kanan hanya didapat dari aku dan dua orang pria yang sudah lanjut usia.
           
Selonjoran tangan anak itu berhenti ketika melihat tak ada raut wajah yang akan mengeluarkan uang dari dompetnya. Anak itupun duduk dan menghitung uang yang dia dapatkan, mungkin itu selama sehari ini. kulihat kepingan uang logam Rp 500, 00 dan Rp 100, 00. Tak seberapa dibanding harga beras yang melonjak naik, menurutku itu hanya cukup untu dirinya tidak untuk nafkah seluruh keluarganya.
            “Adik, kenapa larut malam masih ada disini?” tanyaku. “cari duit” kilahnya dengan singkat. Rupanya dia tak menginginkan jika ku tanya, tetapi aku hiraukan. “ibu tidak memarahimu?” tanyaku kembali. Dia hanya menggelengkan kepala, ta terucap kata sepatahpun. “Adik tidak sekolah?”, dia menggeengkan kepala untuk edua kalinya dengan mata yag terpaku pada uang recehan. “Adik mau sekolah?” tatapannyapun langsung terarah padaku, “untuk apa?” lontarnya dengan tegas. “sekolah itu penting, untuk mencari ilmu, untuk menggapai cita cita pula, adik punya cita-cita?”. “mencari ilmu itu tidak terpaku hanya di sekolah kak ! untuk apa sekolah pada akhirnya banyak yang makan gajih buta, koruptor dimana-mana, apakah itu hasil dari pendidikan?” jawabnya dengan lantang. Aku tercengang dengan perkataannya. “Aku kesal dengan guru disekolahku saat itu korupsi, betapa dia tak membayangkan uang sekolah untukku ayah dan ibuku mencarinya susah payah! Aku memutuskan untuk keluar”.
           
Kiranya dia sudah pernah duduk di bangku sekolah, dan mungkin dia trauma dengan kejadian pahit tentang sekolahnya. “Cita-cita adik apa?” aku kembali bertanya. “Guru”. “Adik harus kembali sekolah demi cita-cita adik tercapai, adik harus membuktikan bahwa bagaimana guru yang bertanggung jawab terhdap muridnya. Adik mau kembali sekolah?”. Dia mengaggukan kepala. “Terimakasih kakak!” ucapny.
           
Sungguh, aku mendapatkan pelajaran dari seorang pengamen kecil.


Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.