Skip to main content

Menjadi Dewasa Di Usia Muda, Pikiran Rakyat 26 Februari 2013



MENJADI DEWASA DI USIA MUDA
Berfikir dewasa sering disalah artikan oleh para remaja saat ini. Menjadi dewasa dalam hal ini buka berarti kita menghilangkan masa muda tetapi bagaimana kita bisa berpikir dewasa, berpikir logis dalam menyikapi segala realita atau masalah yang dihadapi.
            Remaja terkadang menyikapi realita dengan lari dari masalah, itu sifat ke kanak-kanakan yang harus di hindari. dan bisa berakibat remaja itu depresi karena belum siap dengan berbagai masalah. Masalah itu perkara yang tuhan berikan terhadap kita untuk menguji seberapa besarkah kita bisa menyikapi realita yang terjadi.
Usia remaja sedang rentang-rentangnya dihadapkan pada berbagai masalah, dari sekecil mungkin hingga menimbulkan pertikaian.
            Masalah kecil, misalnya remaja tidak sanggup akan tugas-tugas yang terlalu menumpuk, dan tak sedikit emaja stres karena hal itu, atau masalah yang cukup besar. Remaja yang di lingkungan keluarga yang sering dihadapkan masalah kedua orang tuanya akan menjadi beban pikiran besar bagi remaja itu sendiri. Karena remaja memiliki pikiran yang labil dan mudah terbawa arus. Atau dalam lingkup pertemanan, entah dari komunitas, pertemanan sebaya, atau dan lain sebagainya yang menjadi sarana penambahan wawasan kepribadian yang mungkin akan tertanam bibit-bibit kepribadian positif maupun negatif.
langkah untuk berfikir dewasa :
1. Jangan lari dari masalah, hadapidari sisi positifnya, pikirkan dan lakukan tindakan penyelesaiannya
2. Jangan segan meminta bantuan pada orang yang bisa memberimu nasihat-nasihat positif
3. Percaya, tuhan takkan memberikan masalah yang tak mampu untuk kita selesaikan, semua pasti ada jalan keluar
4. Hindari  depresi .
            Maka dari itu remaja harus bisa berfikir jernih dalam menghadapi masalah, dewasa bukan berarti tua tapi dewasa mengarah kita pada bijak. Menjadi dewasa di usia muda bukan berarti kehilangan moment di usia remaja.


Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.