Skip to main content

Lembayung Ramadan, Pikiran Rakyat Edisi 16 Juli 2013



LEMBAYUNG RAMADHAN
            Terlihat di sudut mesjid, dua tatapan anak kecil mengarah kepadaku yang masih berkenakan pakaian seragam sekolah di senja hari. Satu persatu pejalan kaki memberikan kepingan uang logam kedalam cangkang minuman di hadapan mereka. Tak lama dari itu wanita tua menghampiri dengan menggendong anak kecil yang masih mungil. Wanita tua itu duduk di tengah kedua anaknya. Mereka terlihat kusam. Ingin sekali aku bertanya, kemanakah imam mereka? Tak adakah seorang ayah yang menjaga mereka.
            Adzan maghribpun berkumandang, salahsatu anak kecil itu menghampiri dan membawa botol yang berisi airputih. Sebenarnya aku membawa minum sendiri, tetapi aku hargai dengan pemberian anak ini. Setelah memberikan botol berisi air minum ini, dia kembali ke lahunan ibunya. Mereka terlihat riang dengan berkumandangnya adzan. Sepincuk nasi yang kubawa dalam kantongku, aku berikan pada anak itu dengan memberikan isyarat melambaikan tanganku. Dia menghampiri tetapi dia menolak, “berikan pada ibumu” jelasku akhirnya dia menerima nasi pincuk ku.
            Lembayung sore masih menampakan mega berwarna merah, aku bergegas untuk pulang karena perutku yang sudah mulai lapar. Aku putuskan untuk melangkahkan kaki ke mesjid terlebih dahulu untuk shalat maghrib. Terasa sejuk setelah kubasahi wajah dengan air wudhu. Mesjid yang tidak begitu agung, tetapi shaf yang selalu penuh tidak membuat masjid ini sepi sebagai beribadah. Ketika ku ucapkan salam kedua, tak kusadari anak kecil yang tadi duduk di samping kiriku dengan mukena putih yang dikenakan, dia mencium tanganku dan memintaku untuk menghampiri ibunya,
“Ini, saya tahu ananda lapar, kami terbiasa diberi makanan oleh petugas masjid ini”, kolak pisang dan sup buah ditawarkan ibu itu terhadapku. Akupun duduk disamping mereka dengan memakan ta’jil itu. Ibu itupun bercerita selagi saya sedang memakan ta’jil. “Saya merasa bersalah terhadap anak-anak saya, tidak bisa menyekolahkan seperti ananda, jangankan sekolah untuk makanpun saya mengandalkan pembagian dari pengurus mesjid ini, saya merasa berdosa,  bapaknya pergi entah kemana setelah anak ini lahir” (sambil mengusap kepala anak yang digendongnya).
“sesekali saya selalu terpikir untuk memberikan ketiga anak ibu ini pada oranglain, agar terurus, tetapi saya enggan untuk kehilangan anak-anak saya”.
ibu itupun menangis, ketiga anaknyapun memeluknya. Akupun tak tetahan untuk meneteskan airmata.
“ibu, kuatkan diri ibu, yakin ibu pasti ujan berat yang menimpa ibu akan di mudahkan oleh Alloh, tuhan tak akan memberi ujian kepada hambanya jika hambanya tak bisa melewati ujian tersebut. Ibu jangan sia-siakan anugrah yang tuhan berikan terhadap ibu, yakni tiga buah hati ini, rawatlah sampai mereka dewasa, kita berdo’a semoga Alloh memberikan hidayah untuk suami ibu di bulan suci ramadhan ini."



Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.