Skip to main content

Jawaban di Sepertiga Malam, Pikiran Rakyat Edisi 19 November 2013



JAWABAN DI PERTIGA MALAM
               Larut malam aku terbangun dengan desisan yang mengiung di telingaku,tak biasanya. Ini adalah ketiga kalinya. Buahtidur yang selalu terlukiskan adalah kertas putih dengan goresan tinta menyelip di buku,takterbaca. Aku teringat dengan kata-kata yang sempat membuat bulu kudukku merinding, seketika Pak Wahyu member pertanyaan pada seluruh siswa di kelas“Sebentarlagikalian akan menghadapi dunia yang sebenarnya, harus kalian pikirkan akan jadi apa kalian nanti. Apa yang kalian tempuh selama ini akan kalian rasakan. Apakah dunia akan tunduk pada kalian, atau kalian akan dipekerjakan dunia?”.aku yang selalu menghiraukan nasihat guru di depan kelas karena tanganku yang selalu gataluntuk mencoret-coret kertas buku. Bukan materi yang memenuhi isi bukuku, tapi hanya coretan yang tak ada manfaatnya.
               Mimpi yang ku
temui selama tiga hari berturut-turut membuatku merasakan konflik batin. Aku tak seperti biasanya, bahkan kerabatku memanggilku lembek karena kependiamanku.“Rif, insyaf kamu? Seorang Arif membaca buku?” Tanya Jaka sambil tertawa tipis di sebelahku.Jaka, kerabat sebangkuku yang sama kenakalannya denganku. Bahkan nilai semesteran yang selalu didapatkan berbeda tipis. Rata- rata yang hanya mendapat nilai KKM. Aku menutup buku yang kubaca, dan beralih tangan dengan pensil yang siap mencoreti kertas kosong terakhirku. Jaka pun pergi dari tempat duduk, aku menyadari  dia kesal dengan sikapku yang akhir ini aneh.
               Ku lihat
kalender yang terpampang di kamarku, tiba-tiba air mata terasa asin masuk kedalam mulutku. Aku ini seorang laki-laki yang setiap hari tertawa terbahak-bahak dengan semua kenakalanku. Aku malu dengan diriku. Apa aku bias menjadi teladan untuk adik-adikku? Seketika itu aku teringat ayah.
               Derrttt ..getaran
ponsel membangunkan ku dannafas yang sulit untuk kuhela. “Ya Allah” akhirnya aku bis akembali bernafas ketika aku menyebut asma Allah. Lagi-lagi aku bermimpi seperti itu.
aku
pun membasuh wajah, dan tersirat dalam pikiranku untuk pertama kalinya melakukan sholat tahajud. Seusai berwudlu, ku kenakan sarung yang jarang sekali kupakai untuk sembahyang.  Disujud terakhirku, aku terhenti sejenak dan terkilas semua kenakalan yang pernahku perbuat. Akupun menangis sendak dan kertas dalam mimpi itu muncul dalam sujudku, dengan tinta hitam yang mengores kata “jagalah ibu dan adikmu, banggakan ayah dengan kesuksesanmu”. Air mata yang deras mengucur ketika sujud itumengetuk hatiku untuk berubah, aku harus menjadi panutan selagi ayah sudah tiada.


 Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.