Skip to main content

Gantungkan Mimpi, Pikiran Rakyat Edisi 29 Januari 2013



GANTUNGKAN MIMPI
            Belajar dari kisah mimpi Toy, seorang anak kecil dalam keadaan hidup sederhana, terutama dalam bidang ekonomi. Suatu saat, guru menugaskan kepada murid-muridnya untuk menuliskan mimpi di kertas. Toy menuliskan mimpi-mimpinya, dan begitu Toy memberikan kepada guru tersebut, Toy mendapat nilai F, dan guru itu menyuruh Toy untuk menghapus mimpinya, karena guru tersebut berfikir itu mustahil. Guru itu akan memberi nilai A jika mimpi itu diganti, Toy pun menghapus mimpi itu, dan menuliskan kembali di kertas baru mimpi yang di tuliskan tetap sama seperti yang Toy tuliskan sebelumnya. Dan guru itu memberi nilai F kembali.
beberapa belas tahun kemudian Toy bisa mwujudkan semua mimpinya, dan gurunya pun meminta maaf karena dia hampir mematikan mimpi Toy.
            Dalam hidup ini kita harus mempunyai mimpi, setinggi apapun mimpi kamu asalkan real wujudkanlah. Jangan pernah takut bermimpi. Seseorang takkan bisa menghentikan mimpi kita, hanya diri kita sendiri yang bisa menghentikannya. Gantungkan mimpimu dan wujudkan pencapaiannya dengan usaha semaksimal mungkin. Kamu akan merasa sangat bangga jika semua mimpimu menjadi nyata. Tak ada hal yang tak mungkin asal kita berusaha.
mulailah tuliskan mimpimu sebanyak-banyaknya dari sesuatu yang kecil hingga besar, dan wujudkan pencapaiannya. Janganlah kamu bermain-main terhadap mimpimu.
kamu akan tersenyum bangga saat mimpi-mimpimu bisa kamu genggam.
sahabat belia, mulailah wujudkan mimpi menjadi kenyataan.



Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.