Skip to main content

Bunda, Pikiran Rakyat edisi 11 Desember 2012



BUNDA
“ya sudah, ceraikan saya! .. “ . kata-kata pahit itu terlontar dari ibuku . di kamar aku  terdiam dan menangis bersama adik perempuan kecilku. Adikku tak mengerti apa-apa, tapi bisa merasakan. Suasana hujan lebat diluar yang menyelimuti, tak seperti biasa, minun teh hangat bersama. Kekecewaan ibu terhadap ayahku, yang mengalami bangkrut drastis membuat suasana buruk dalam rumah tangga, dan berujung dengan perceraian. Ayah membawa aku dan adikku untuk ke rumah nenek . tak jauh dari waktu ayah bercerai dengan ibu, ada kabar dari bibi, ibuku akan menikah lagi. Kebencian terhadap ibuku langsung tertanam, tak ingin ku mendatangi pernikahan ibuku.
            Ayahku memilih untuk tinggal di rumah kontrakan. Kini aku yang menjadi peranan ibu. Berusaha membagi gaji ayah . Sekarang ayah berbeda tak seperti dulu , serangan jantung yang semakin kronis membuatku khawatir, sesekali ayah menyuruhku untuk tinggal bersama ibu, entahlah aku tak mau mengenalinya lagi.
            Tinggal beberapa hari lagi aku lengser dari bangku SMA, harapan besarku untuk masuk perguruan tinggi negri. Tapi cobaan pahitpun mengampiri,  kala ingin ku pinta doa ayah ,  suara ayah tak terdengar. Akupun nekat memasuki kamarnya, sebelumnya aku dilarang memasuki kamar, astagfirulloh .. kamar ini sangat tak terawat, seperti kandang , dan ayahku terbaring tak bernyawa, dan mengembuskan kata terakhirnya “ kembalilah pada ibumu .. “
Tiga kali gagal masuk perguruan tinggi negeri, habis harapanku. Guruku merasa heran mengapa aku selalu gagal, akupun bercerita tentang masalah keluargaku. “ oh , disini letaknya .sekarang kamu datangi ibumu untuk meminta maaf dan doa , ibu itu adalah kunci , penghubung segala doa, kamu pintar, kamu mampu tapi kuncimu belum terbuka, hilangkan kebencian itu terhadap ibumu “ . setelah ku berfikir panjang , dan aku ingat pesan terakhir ayahku ,akupun mendatangi kediaman ibuku . dari kejauhan kulihat ibu berbaju putih , akupun lari dan memeluknya, ku cium tangannya , meminta maaf, dan meminta doa .
Ternyata benar, kunci kesuksesan itu terbuka oleh do’a ibu. Kini aku diterima di enam perguruan tinggi negeri dan swasta.


Elin Salma Alfiyani

Comments

Popular posts from this blog

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.