Skip to main content

Posts

Tiga

Seperti yang kau tahu, keterbatasan sering menjadi diskriminasi bagi orang-orang yang lemah. Tak sedikit kaumku memiliki perlakuan berbeda. Masa kecilku retak, tak ada kawan untuk bercengkrama, memainkan boneka berbie ataupun sejenis permainan perempuan di kampung. Aku menjadi bullyan kawan sebayaku.
Kerap kali mereka menampilkan drama empatinya ketika aku didampingi oleh ibu. Lain hal ketika ibuku tak ada. Tertawaan mereka tak pernah aku adu kan terhadap ibu, ibu hanya tahu mereka peduli. Aku sadar jikalau ibu tahu perlakuan asli mereka semakin ada larangan bergaul di dunia bebas dan akan sulit bagiku beradaptasi dengan orang-orang.
Kecelakaan mobil menabrak pohon yang mengharuskan kaki ini di amputasi sejak usiaku empat tahun. Ibu dan ayah memperlakukanku istimewa, sering kali aku dengar mereka bercakap tentang rasa bersalah kejadian itu. Ayah mengantuk saat mengendarai mobil aku terpental keluar dan ajaib hanya kaki yang menjadi korban. Kepalaku tak terjadi apa-apa walau seingatku…
Recent posts

Dua

Hari senin, tepat pukul 17.45 aku lihat lukisan alam yang teramat cantik. Kala itu usiaku 7 tahun. Senja yang akan tenggelam beberapa saat memancarkan sinar untuk menjemput malam tiba, terlihat pancarannya dari jendela kamarku. Seperti kuning telur yang sudah matang. Saat itu ibuku menjelaskan bahwa banyak orang yang rela berlari jauh untuk mendapatkan senja dimanapun ia berada. Kau tahu, senja itu hanya satu. Tapi di belahan bumi manapun kita bisa menikmatinya.
“memangnya senja bisa ditemui dimana saja bu”
Ibuku menjelaskan tentang pendakian yang selalu menjadi hobi orang-orang untuk mendapatkan senja. Begitu menarik hingga aku tak sadar bahwa mataku tak berkedip ketika ibuku menjelaskan tentang pendakian. Ya, ibu dulu adalah seorang pendaki. kenapa ibu begitu menghayati tentang keindahannya ketika dulu seringkali menikmati senja.
 “bu, aku ingin menjadi seorang pendaki”
“tidak, nak”
“aku bisa bu, aku ingin seperti ibu”
Ibuku hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman.
Percakapan…

Satu

Perkenalkan, aku arini. Aku gadis sunda lahir di tanah kelahiran yang orang sebut kota kembang. Banyak kembang-kembang desa yang bertebaran di daerah pegunungan. Masih polos nan ayu. Seringkali aku hampiri ketika sesekali menanyakan toilet umum di tengah hutan atau mushala.
Sekarang aku hidup di tengah-tengah bisingnya kendaraan, polusi dimana-mana. Bukan di sebuah hotel, atau apartemen mewah, melainkan di sebuah rumah yang sudah ku miliki dari penghasilanku.
Aku akan menceritakan kilas balik ku berada disini, betapa impianku untuk menjadi anak rantau. Dari sejak aku lulus dari Universitas.
Sebelum ku siratkan kilas perjalananku, aku ingin kau tanamkan dalam benakmu berjanji pada dirimu, bersinggahlah ke tempat-tempat indah yng telah Allah ciptakan. Jangan sampai pijakan kaki hanya berdiri di tanah tempatmu lahir. Dan ini adalah janjiku pada suatu hari tepat lima tahun yang lalu.